Kanker Serviks

Senin, 27 Oktober 2008 · 2 komentar


Kanker leher rahim (kanker serviks) adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi yang terus menerus dari human papillomavirus (HPV) tipe onkogenik (yang berpotensi menyebabkan kanker). Telah terbukti bahwa HPV merupakan sebab mutlak terjadinya kanker serviks - angka prevalensi didunia mengenai karsinoma serviks adalah 99,7 %.
Kanker serviks merupakan kanker yang terbanyak diderita wanita-wanita di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Di negara maju kanker ini menduduki urutan ke-10 dan bila digabung maka ia menduduki urutan ke-5. Sebagaimana kanker umumnya maka kanker serviks akan menimbulkan masalah-masalah berupa kesakitan (morbiditas), penderitaan, kematian, finansial/ekonomi maupun lingkungan bahkan pemerintah. Dengan demikian penanggulangan kanker umumnya dan kanker serviks khususnya harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Akibat serius dari penyakit ini adalah kematian.

Makin tinggi stadium penyakitnya makin sedikit penderita yang dapat bertahan hidup/survive. Penyebab utama tingginya angka kejadian kanker serviks di negara berkembang karena tidak adanya program skrining yang efektif bagi wanita dengan sosial-ekonomi rendah.
Setiap tahun diperkirakan terdapat 500.000 kasus kanker serviks baru di seluruh dunia, 77 % di antaranya ada di negara-negara sedang berkembang. Di Indonesia diperkirakan sekitar 90-100 kanker baru di antara 100.000 penduduk pertahunnya, atau sekitar 180.000 kasus baru pertahun, dengan kanker serviks menempati urutan pertama di antara kanker pada wanita. Studi epidemiologik menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko terjadi-nya kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini (<20 tahun), berganti-ganti pasangan seksual, merokok, trauma kronis pada serviks uteri dan higiene genitalia. Lebih dari separuh penderita kanker serviks berada dalam stadium lanjut yang memerlukan fasilitas khusus untuk pengobatan seperti peralatan radioterapi yang hanya tersedia di beberapa kota besar saja. Di samping mahal, pengobatan terhadap kanker stadium lanjut memberikan hasil yang tidak memuaskan dengan harapan hidup 5 tahun yang rendah. Mengingat beratnya akibat yang ditimbulkan oleh kanker serviks dipandang dari segi harapan hidup, lamanya penderitaan, serta tingginya biaya pengobatan, sudah sepatutnya apabila kita memberikan perhatian yang lebih besar mengenai latar belakang dari penyakit yang sudah terlalu banyak meminta korban itu, dan segala aspek yang berkaitan dengan penyakit tersebut serta upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan
Perkembangan penderita kanker mulut rahim (Karsinoma Serviks) pada tahun ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, karena perilaku seksual yang tidak sehat yang dilakukan pasangan suami-istri. Selain itu, karena ketidaktahuan masyarakat terhadap gejala yang timbul juga menyebabkan penderita penyakit ini jumlahnya mengalami peningkatan, Penyakit kanker mulut rahim terjadi karena Human Papillomavirus (HPV) dan ini terjadi saat proses hubungan seksual pasangan suami dan istri.
Insidens kanker serviks meningkat sejak usia 25-34 tahun dan menunjukkan puncaknya pada usia 35-44 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Ciptomangunkusumo, dan 45-54 tahun di Indonesia. Laporan FIGO pada tahun 1998 menunjukkan kelompok usia 30-39 tahun dan 60-69 tahun terbagi sama banyaknya. Secara keseluruhan, stadium IA lebih sering ditemukan pada kelompok usia 30-39 tahun sedang untuk stadium IB dan II lebih sering ditemukan pada kelompok usia 40-49 tahun. Kelompok usia 60-69 tahun merupakan proporsi tertinggi pada stadium III dan IV.

A.Faktor Risiko Kanker Serviks
Perilaku seksual
Banyak faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Telaah pada berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker leher rahim menunjukkan bahwa faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi. Karsinogen ini bekerja di daerah transformasi, menghasilkan suatu gradasi kelainan permulaan keganasan, dan paling berbahaya bila terpapar dalam waktu 10 tahun setelah menarche. Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya kolerasi antara kejadian kanker serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep "Pria Berisiko Tinggi" sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.
Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan anti-oksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan). Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.

Read More......

Epidemiologi PJK

· 0 komentar


Penyakit kardiovaskuler (PKV) terutama penyakit jantung koroner merupakan penyakit revalen dan menjadi pembunuh utama di negara-negara industri. Penyakit jantung koroner merupakan permasalahan kesehatan yang dihadapi sebagian besar negara di dunia. Oleh karena itu, diagnosis dan terapi penyakit yang menjadi pembunuh nomor satu di banyak negara tersebut terus berkembang. Selama bertahun-tahun epidemiologi kesehatan umumnya berkecimpung dalam menangani masalah penyakit menular. Hal ini tidak dapat disangkal dari sejarah ilmu epidemiologi itu sendiri, yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. Namun, perkembangan kesehatan melaju begitu cepat seiring dengan perkembangan dunia industri dan teknologi di era modernisasi dan globalisasi.
Berbagai transisi yang ada, baik transisi demografik, sosio-ekonomi maupun epidemiologi telah menimbulkan pergeseran-pergeseran, termasuk dalam bidang kesehatan. Angka kematian menurun dan usia harapan hidup secara umum makin panjang, pola penyakit dan penyebab kematian telah berubah. Penyakit-penyakit yang mematikan bukan lagi penyakit menular, namun telah bergeser kearah Penyakit-penyakit tak menular, misalnya stroke, penyakit jantung koroner dan lainnya. Beberapa publikasi menyebutkan Penyakit-penyakit infeksi (akut) telah makin sedikit prevalensinya, sedangkan penyakit kronik justru meningkat.


Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan dan masih menjadi masalah, baik di negara maju maupun berkembang Di belahan negara dunia, penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang Amerika dewasa. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat 478000 orang meninggal karena penyakit jantung koroner, 1,5 juta orang mengalami serangan jantung, 407000 orang mengalami operasi peralihan, 300000 orang menjalani angioplasti. Di Eropa diperhitungkan 20.000-40.-000 orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. Penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat, yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.
Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78% kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat miskin dan menengah. Berdasarkan kondisi itu, dalam keadaan ekonomi terpuruk maka upaya pencegahan merupakan hal terpenting untuk menurunkan penyakit kardiovaskuler pada 2010. Di negara berkembang dari tahun 1990 sampai 2020, angka kematian akibat penyakit jantung koroner akan meningkat 137 % pada laki-laki dan 120% pada wanita, sedangkan di negara maju peningkatannya lebih rendah yaitu 48% pada laki-laki dan 29% pada wanita. Di tahun 2020 diperkirakan penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya. Oleh karena itu, penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomer satu di dunia.
Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan beragam. Tentu saja mulai dari infeksi klasik dan modern, penyakit degeneratif serta penyakit psikososial yang menjadikan Indonesia saat ini yang menghadapi " threeple burden diseases". Namun tetap saja penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit jantung koroner – "the silence killer". Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN), dalam 10 tahun terakhir angka tersebut cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1991, angka kematian akibat PJK adalah 16 %. kemudian di tahun 2001 angka tersebut melonjak menjadi 26,4 %. Angka kematian akibat PJK diperkirakan mencapai 53,5 per 100.000 penduduk di negara kita.
Di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan laporan dari Rumah Sakit, kasus tertinggi Penyakit Jantung Koroner adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 4.784 kasus (26,00%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Penyakit Jantung Koroner di kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus keseluruhan PTM lain di Kabupaten Klaten adalah 3,82%. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 2.004 kasus (10,89%) dan apabila dibanding dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten Banyumas adalah sebesar 9,87%. Kasus ini paling sedikit dijumpai di Kabupaten Tegal yaitu 2 kasus (0,01%). Sedangkan kabupaten Semarang dan Kabupaten Cilacap belum melaporkan. Rata-rata kasus Jantung Koroner di Jawa Tengah adalah 525,62 kasus.
Beberapa hasil penelitian telah dilakukan terkait dengan penyakit jantung koroner dan factor-faktor yang berpengaruh. Salah satunya yaitu, penelitian tentang Pengembangan Model Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) pada Kelompok Pengambil Keputusan (Lanjutan ). Para pejabat pengambil keputusan di Indonesia adalah kelompok masyarakat penting karena kelompok inilah otak dari baik tidaknya situasi dan kondisi pembangunan. Namun, kelompok ini sering terpapar pada faktor risiko penyakit jantung koroner. Untuk mendapatkan suatu model dalam menurunkan faktor risiko tersebut di atas telah dilakukan suatu survei sehingga diperoleh data dasar mengenai keadaan (a). fisik(elektrokardiografik = EKG dan tekanan darah); (b). antropometrik (tinggi dan berat badan); (c). pemeriksaan darah terhadap kadar kolesterol, gula darah, asam urat; dan (d). paparan asap rokok. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa faktor risiko terhadap terjadinya penyakit jantung koroner yang paling mencolok ditunjukan oleh kadar kolesterol tinggi (70,4%) disusul oleh kegemukan (28,6%); kadar asam urat tinggi (27,7%) dan EKG tidak normal (21,4%). Data tentang kadar kolesterol darah tinggi, kegemukan, kadar asam urat darah tinggi dan EKG tidak normal digunakan sebagai data dasar untuk membuat model menurunkan faktor risiko terhadap terjadinya. (Ganda Siburian, 2001).

Read More......

WAJAH BARU HIMAPID

Senin, 06 Oktober 2008 · 0 komentar

Musyawarah Besar (MUBES) Himpunan Mahasiswa Epidemilogi (HIMAPID) FKM Universitas Hasanuddin yang dilaksanakan pada Hari Minggu (21/09) membawa performa baru tersendiri. Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa Jurusan Epidemiologi ini berlangsung penuh semangat antusias menantikan figur pengemudi roda HIMAPID kedepannya.

Indra Dwinata, ketua HIMAPID periode 2007-2008 menyampaikan Laporan Pertanggung Jawabannya (LPJ) penuh hikmah dengan berbagai sanggahan-sanggahan dari peserta MUBES. Ia pun bersama dengan pengurus lainnya menanggapi sanggahan-sanggahan tersebut hingga pada akhirnya 100% LPJ-nya diterima oleh peserta MEBES. Dengan diterimanya LPJ tersebut maka berakhir pulalah roda kendaraan yang telah ia kemudi selama satu kali periode tersebut. Pengabdiannya yang tulus membawa HIMAPID naik daun dengan terlaksananya program HEART-nya (Health Education and Reproduktive Teenager). Sebuah organisasi penelitian kesehatan reprouksi mahasiswa yang masih bernaung di HIMAPID kerja sama dengan Jaringan Epidemiologi Nasinal (JEN) dan Ford Fondation (ff). Satu-satunya warisan yang Ia persembahkan ke pengurusan selanjutnya adalah sebuah logo baru yagn juga adalah logo pertama selama kurang lebih 10 tahun himapid konsisten sebagai himpunan. (Logo dapat dilihat pada edisi berikunya)

Saat yang paling dinanti-nantikan tentunya adalah pemilihan calon ketua HIMAPID periode 2008-2009. Dari sekian banyak bakal calon yang diusung hanya 2 yang menyatakan kesediaanya. Peroses pemilihan pun berlangsung dengan tertib dan pada akhirnya melahirkan Nur Akbar Bahar, mahasiswa jurusan epidemiologi angkatan 2006 sebagai motorik HIMAPID yang didampingi oleh Ilham Salam yang juga mahasiswa jurusan epidemiologi FKM Unhas angkatan 2006. Suasana forum seketika saja gaduh dengan ucapan selamat kepada kedua Idol HIMAPID tersebut, termasuk ucapan dari salah satu dosen pembimbing, Wahiddudin, SKM., M.kes, satu-satunya dosen yang setia mengikuti acara dari awal hingga akhir. Acara pun ditutup dengan buka puasa bersama oleh Jurusan Epidemiologi FKM UNHAS.(Citizen By:”Dhika”)


Read More......

Forum KesPro Mahasiswa "HEART"

Minggu, 01 Juni 2008 · 0 komentar


HEART (Health Education Of Reproductive Teenagers) ad/ suatu forum yang concern terhadap persoalan kesehatan reproduksi khususnya kesehatan reproduksi remaja dan mahasiswa. Terbentuk pada tanggal 3 Maret 2008 di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) yang merupakan hasil kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Epidemiologi (HIMAPID) FKM Unhas dengan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) dan Ford Foundation (ff).

— Latar Belakang terbentuknya adalah karena Masih tingginya Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia, dibuktikan dengan penelitian dari PKBI di 5 kota besar di Indonesia yang melibatkan sekitar 2.479 siswa SMU dan Mahasiswa sebagai responden yang berusia antara 15-24 tahun sekitar 64,44% sudah pernah melakukan perilaku seksual pra nikah. Hal ini disebabkan masih tidak memadainya pengetahuan mereka tentang kespro serta pengaruh pergaulan di tempat kost- kostan mereka.(Yahya, 2001).

— Pemerhati Kespro Mahasiswa di Tingkatan Fakultas dan Universitas Belum ada.

— Ada bentuk Kerjasama yang baik antara Ford Foundation, Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN), Jurusan Epidemiologi untuk Melakukan Penelitian PRA Kesehatan Reproduksi

— Oleh karena itu, kami dari TIM KesPro Mahasiswa ingin mencoba mengaplikasikan hasil pelatihan yang diberikan JEN dengan mengadakan penelitian PRA KesPro dengan melibatkan mahasiswa FKM Unhas menjadi obyek penelitian tersebut. Untuk ikut berperan aktif mewujudkan kesehatan reproduksi yang baik bagi mahasiswa.

Tujuannya

— Tujuan Umum

Mengetahui faktor risiko dan besarnya kesadaran Akan pentingnya Kesehatan Reproduksi di kalangan Mahasiswa Unhas

— Tujuan Khusus
1. Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual dikalangan mahasiswa Unhas

2. Mensosialisasikan pentingnya Kespro dikalangan Mahasiswa Unhas

3. Menumbuhkan kesadaran & partisipasi Mahasiswa untuk menangani Kesehatan Reproduksi.

4. Melakukan proses regenerasi untuk pengembangan Kespro Mahasiswa di Unhas

Read More......

HIMAPID in Action

Distribusi Tempat

Distribusi Waktu

Feedjit

Hamster Epid

Jumlah Pengunjung